Jangan Mau Ikut ‘Gila’ Gara-Gara Pria Posesif yang Tingkahnya Seenaknya Aja – Bukan kisah yang patut dibanggakan adanya, tetapi sebuah pengalaman yang katanya akan menjadi guru paling baik ke depannya. Aku mengenalnya sejak duduk di bangku sekolah dasar, bukan sebab kami bertetangga ataupun satu sekolah, tetapi sebab kami satu kelas di bimbingan belajar yang ada di kotaku. Tidak layaknya teman-teman perempuanku yang notabenenya mudah akrab bersama dengan siswa lelaki, saya lebih condong pendiam.

Cerita Menyedihkan Jangan Mau Ikut ‘Gila’ Gara-Gara Pria Posesif yang Tingkahnya Seenaknya Aja

jangan-mau-ikut-gila-gara-gara-pria-posesif-yang-tingkahnya-seenaknya-aja

chungcu187tayson.net – Dapat dihitung bersama dengan jari berapa banyak kami berkomunikasi didalam 3 th. di kelas bimbingan belajar yang sama. Mungkin sebab itu, tidak ada kesan spesifik bagiku tentangnya, bahkan memiliki perasaan tertarik sebagai remaja putri yang baru puber. Semuanya biasa saja, bahkan hingga hari paling akhir di kelas bimbel yang diisi bersama dengan doa sehingga hasil ujian nasional semua siswa bagus dan dapat diterima di SMP yang diinginkan.

Nampaknya perpisahan di bimbingan belajar berikut bukan akhir, sebab sementara melanjutkan ke jenjang sekolah menengah pertama, saya sekelas bersama dengan 4 temanku di bimbingan belajar: 3 perempuan, dan satu ulang adalah dia yang seterusnya akan kusebut bersama dengan Adit. Jangan bayangkan kami akan akrab hanya sebab belum punya kebiasaan bersama dengan kawan baru, saya memang memerlukan lebih dari satu hari untuk punya kebiasaan bersama dengan lingkungan baru, tetapi Adit adalah orang yang mudah bergaul, dia muncul telah akrab sekali bersama dengan kawan sebangkunya dan teman-temanku lainnya.

Aku tergolong remaja putri biasa yang dapat dikatakan tidak cukup hiraukan bersama dengan persoalan cinta monyet. Banyak yang bilang saya ini tidak cukup peka terhadap kode-kode yang diberikan oleh anak-anak lelaki yang chat denganku, tetapi ku anggap murni untuk menanyakan persoalan pelajaran, keliru satunya Adit. Kami menjadi sering berada di grup mata pelajaran yang sama, dan termasuk lebih akrab sehabis dia sering menanyakan padaku perihal rumus yang tidak cukup dipahami.

Bagi anda yang suka bermain game online silahkan kunjungi link berikut : Taruhan Bola

Keakraban didalam kedok pertemanan bisa saja membuatku yang sementara itu belum mengetahui perihal konteks cinta keliru menerjemahkan yang berlangsung pada kami. Setelah pengumuman kelulusan SMP kami resmi pacaran. Bukan tanpa alasan saya menerimanya, saya beranggapan bahwa dia orang yang baik. Tidak pemarah, menghabiskan sementara untuk hobinya yang positif, dan pandanganku dia bukan style pria yang mengekang layaknya yang dialami lebih dari satu sahabatku.

Setahun pertama kami pacaran, sepenuhnya berlangsung biasa saja, biarpun tidak layaknya drama Korea ataupun film-film bergenre teen fiction yang menyuguhkan adegan romantis ala anak SMA. Dia pun bukan style remaja nakal yang tidak dapat hidup tanpa rokok, dan yang utama adalah dia tidak keberatan kami berpacaran sehat. Yang kusyukuri adalah saya selamanya bebas beraktivitas dan mengembangkan hobiku di lebih dari satu ekskul biarpun kami berbeda sekolah, tanpa ada batasan darinya.

Semuanya terasa terasa aneh bagiku sementara kami duduk di kelas XI, awalnya saya berpikiran bisa saja sikap mengaturnya yang perlahan terasa berubah menjadi mengekang didasari sebab dia tidak inginkan berpisah biarpun berbeda sekolah, tetapi lama kelamaan saya terasa terasa dia berlebihan. Menyuruhku berhenti mengikuti ekstrakurikuler yang katanya takut kecapekan tambah berubah menjadi perintah untuk berhenti ekstrakulikuler sebab cemburu buta kecuali saya bekerja sama bersama dengan anggota eksul pria.

Dia pun lebih sering marah-marah dan bertingkah kasar. Beberapa kali bertemu dia menggeledah isi HP-ku, tetapi bukannya ekspresi lega yang terpatri di wajahnya sebab keterbukaan soal isi HP dia tambah marah-marah dan kekerasan fisik pun terasa berani ia jalankan hanya sebab saya belum muncul grup ekskul cocok permintaannya. Saat itu saya telah berpikir untuk kabur saja, sebab jujur saja saya terasa takut dengannya, belum ulang semua yang kulakukan nampak keliru dan selamanya dicaci bersama dengan kata-kata kotornya.

Namun sehari sehabis kejadian itu dia berharap maaf, saya masih memaafkannya sebab terasa masih nyaman dengannya, bersama dengan berpikiran kejadian berikut hanya kekhilafannya. Namun deretan kejadian sama ulang terjadi, bahkan sehabis saya telah muncul berasal dari grup ekskul. Dia menjadi marah hanya sebab saya mengerjakan PR tanpa memberitahunya. Kami menjadi jarang bertemu, tetapi saya tambah lega, sebab setiap kami bertemu sekurang-kurangnya dia tentu membentakku.

Setahun saya bertahan dengannya, bersama dengan bentakan, cacian, dan termasuk kekerasan fisik, kewaranku akhirnya menyeruakkan untuk saya berhenti saja dan terdoktrin secara otomatis bahwa cinta yang digemborkan sebagai basic ia melakukannya dan termasuk sementara berharap maaf pasca kejadian hanya obsesinya semata. Aku pun akhirnya menegaskan padanya kecuali saya inginkan kami berhenti berhubungan bersama dengan alasan sikapnya telah keterlaluan.

Jujur saja sementara itu saya terasa lega dan kukira sepenuhnya telah usai. Tapi ternyata hidup memang tidak selamanya simpel. Dia mengirimiku pesan singkat via SMS, BBM, dan WA. Bukan berisi kata maaf ataupun mengajak balikan, tetapi sepenuhnya berisi hinaannya tentangku. Aku sempat terasa terpukul sebab direndahkan oleh orang yang sempat kupercaya. Aku pun memastikan untuk memblokir semua kontaknya sehabis membalas pesannya bersama dengan runtutan penjelasan kenapa saya berharap berhenti berhubungan. Hal itu bukan tambah membuatnya introspeksi diri tetapi tambah jadi menjadi-jadi bersama dengan tuduhan saya tengah pacaran bersama dengan pria lain.

Aku tidak mengambil pusing, sebab bagiku sementara saya telah menyatakan tetapi dia tambah jadi mejadi-jadi, kupikir dia perlu sementara sendiri. Aku membebaskan dia bicara semaunya, tetapi akhirnya saya yang sementara itu masih anak usia 16 th. pun menentukan ubah no untuk sementara demi menghindarinya. Aku tidak mengetahui bagaimana mulanya, tetapi sebulan sehabis saya ubah no saya mendengar kabar bahwa dia menjadi akrab bersama dengan kawan sekelasku SMA.

Dia mengumbar cerita bahwa saya lah titik tidak baik didalam jaman pacaran kami. Tidak lumayan hingga di situ, sahabat-sahabat dekatku terasa berasal dari SMP pun terasa ia dekati bersama dengan cerita yang sama. Mereka tidak sepenuhnya menilai saya yang paling keliru sehabis mendengar penjelasanku, tetapi simpati yang terlanjur mereka memiliki membuat Adit ulang mengetahui no ponselku yang baru.

Aku tidak marah terhadap sahabatku ataupun kawan sekelasku, saya lebih terhadap risau seumpama dia ulang bersama dengan terornya. Dugaanku tidak sepenuhnya benar. Dia memang ulang meneror di hari-hari awal sehabis mengetahui no baruku tetapi sehabis bahagia bersama dengan luapan emosinya dia rela diajak berdamai. Kami membahas perihal alasanku berharap berhenti.

Dengan kata manisnya dia menyatakan bahwa sepenuhnya murni sebab dia tidak rela kami berpisah. Dia terasa bersikap manis layaknya sementara awal pacaran. Hal itu sempat membuatku berpikir bahwa dia telah ulang menjadi dirinya yang dulu. Dan membuatku ulang berpikir bahwa ulang bersama dengan adalah sebuah tawaran yang baik layaknya saran berasal dari teman-temanku.

Akhirnya saya menentukan untuk selamanya menjadi hanya kawan bersama dengan risiko di awalnya ulang mendapat cacian. Aku bisa saja nyaman dengannya tetapi sehabis ditinjau ulang, saya hanya dapat menerimanya sementara dia bersikap baik, tanpa dapat mengimbuhkan jaminan dapat menghadapinya sementara cii-ciri kasarnya muncul kembali. Saat itu bisa saja saya hanya anak usia belasan th. yang baru puber, tetapi saya mengetahui sepenuhnya, bahwa yang dimilikinya adalah obsesi untuk menahanku.

Aku tidak iri terhadap temanku yang berganti-ganti pasangan yang ku anggap sebagai sistem pencarian jati diri namun saya menjadi single, terasa sementara itu saya lebih menentukan mencintai diriku bersama dengan memberikanku kenyamanan dan jalankan kegiatan-kegiatan baru yang tidak sempat kulakukan sementara masih berpacaran.

Jujur saja saya sempat takut bahwa keputusanku yang menyeleweng berasal dari saran temanku adalah hal keliru tetapi bersama dengan kemauan yang telah kumantapkan fokus terhadap pendidikanku membuatku membulatkan kemauan dan alhamdulillah saat ini saya tidak pernah menyesalkan perihal keputusanku. Aku dapat menjadi diriku sendiri tanpa takut terhadap siapapun, hal ini berlangsung hanya sebab sementara itu saya memanfaatkan kewarasanku untuk berpikir dan mendengarkan seruan hati untuk memutuskan.

Cinta luar biasa memiliki banyak arti didalam hidupku, kecuali ditanya mengapa cerita ini yang kubagi didalam tema cinta luar biasa dan bukan cerita lain. Maka jawabannya adalah sebab pengalamanku ini tidak dialami semua orang, cinta luar biasa yang kubagi adalah bagaimana menentukan pada menekankan terhadap cinta terhadap diri sendiri atau cinta terhadap sesama makhluk Tuhan yang pernah dianggap menjadi jodoh di jaman depan.

Terutama untukmu ladies yang masih menyandang status remaja, jangan pernah takut bersama dengan ancaman, kekangan, kekuranganmu atau apa-pun yang digunakan pria posesif untuk mengancammu, kamu tidak wajib takut keliru ambil ketentuan di usiamu yang masih belia. Kamu wajib mendengarkan kenyamanan yang hatimu suarakan dan jangan pernah berpikir kamu lemah untuk memperoleh kebebasanmu. Cinta yang baik adalah cinta yang selamanya mendukungmu dan terima apa terdapatnya kamu.