Kisah Emak-emak Driver Ojol Cari Uang Demi Anak di Saat Eks Suami Nikah Lagi – Usai perceraian dan fitnah sang mantan suami, perempuan yang berprofesi sebagai tukang ojek online itu berbagi kisah sedihnya. Ia dituduh selingkuh, dan kini ia harus membesarkan empat orang anak sendirian, sementara suaminya hidup bahagia bersama istri barunya.

Kisah Emak-emak Driver Ojol Cari Uang Demi Anak di Saat Eks Suami Nikah Lagi

kisah-emak-emak-driver-ojol-cari-uang-demi-anak-di-saat-eks-suami-nikah-lagi

chungcu187tayson – Nama Ibu Darma juga membagikan kisah hidupnya di HaiBunda.com. Berikut kisah lengkap Bu Dama tentang harus mencari uang untuk keempat anaknya setelah bercerai dengan mantan suaminya:

Jika Mas Tomas tidak kawin lagi dengan perempuan yang gagal kawin lagi, saya pasti fokus mengurus anak-anak kami. Namun, nasibnya berbeda.

Justru, dia menuduhku yang pertama selingkuh. Katanya, dia tak betah hidup denganku lantaran rumah kita selamanya didatangi orang bank. Dia mengatai-ngataiku. Sempat pula berkata, saya perempuan tak tahu diri sebab selamanya berutang. Padahal, saya berutang demi anak-anak kami. Selain itu, untuk membayar kredit rumah dan mobil yang dibeli mantan suamiku itu.

Sungguh, saya tidak pernah berselingkuh. Memang, saya adalah style perempuan yang dekat bersama dengan beberapa teman lelaki. Tapi, suamiku tahu sejak kita tetap pacaran. Lagi pula, saya dan teman laki laki tidak pernah berbicara empat mata. Melainkan, cuma berbincang kalau tersedia tetangga. Aku takut fitnah. Walau pun telah difitnah sampai kita bercerai.

Empat anak kita turut denganku yang saat itu tidak miliki pekerjaan. Aku tidak ulang menerima beberapa gaji dari mantan suamiku yang bekerja sebagai aparat negara. Semua uangnya telah diberikan untuk istri baru yang lebih seksi dan muda.

Mau tidak mau, saya pun harus bekerja. Tidak tersedia pilihan lain, saya pun menjadi pengemudi ojek online.

Karena tuntutan pekerjaan ini, saya harus merelakan anak kita yang tetap berumur satu th. diasuh oleh neneknya. Mulai pagi sampai sore, bahkan pernah juga selepas Isya. Aku harus mencari penumpang demi memenuhi keperluan sehari-hari dan cost pendidikan ke empat buah hati yang pernah pernah menjadi sumber cinta suami kepada saya.

“Kasihan ya. Anak-anak Bu Darma tetap kecil. Tapi, harus kehilangan kasih sayang dari kedua orang tua,” begitu bunyi gunjingan tetangga yang pernah saya dengar. Mereka ngga salah, namun matang saya harus diam aja menyaksikan anak-anak kelaparan atau tidak sanggup bersekolah?

Ibu dan bapak pernah menyuruhku untuk menikah lagi. Tapi, siapa yang senang bersama dengan ibu empat anak? Selain itu, saya bukanlah janda yang miliki harta berlimpah dan tubuh yang tetap ideal. Kulit pun telah tak kencang. Bahkan, sebab kerap berkeliling mencari penumpang, kulitku kusam dan agak gelap.

Rasa sakit ini jadi bertambah saat mendengar mantan suami malah sanggup membeli harta dan bukannya membiayai anak-anaknya.