Cerita Sedih Ayah Penggemar Barang Rongsok – Pria itu selalu saja begitu, kerjaannya begadang hingga larut dan hanya memperbaiki barang rongsok yang bukan miliknya. Mendengar suaranya saja sudah bikin tidak tenang banyak orang, entah bagaimana, yang tahu suaranya lumayan nyaring di dengar berasal dari dalam rumah.

Cerita Sedih Ayah Penggemar Barang Rongsok

cerita-sedih-ayah-penggemar-barang-rongsok

chungcu187tayson.net – “pak sudah malam ini, cepatan masuk rumah, gak sedap sama tetangga.” kata ibuku.

Rumahku berada di tepi jalur gang tidak terlalu lebar. Dalam tempat tinggal kami, tidak tersedia area bikin menyimpan seluruh barang punya ayahku, chungcu187tayson.net/ tepatnya barang punya temannya.

Ibuku kerap marah kepada papa sebab perbuatannya yang kerap sekali tidak tidur. Tak jarang termasuk terhadap pagi hari terdengar celoteh yang kurang sedap untuk didengar anak-anaknya sepertiku.

Tapi apa boleh buat, begitulah tradisi ayahku.

Dia memperbaiki becak motor punya teman-temannya. Bukan hanya satu-dua, mgslotonline melainkan tersedia 3 hingga lima becak yang berserakan di depan tempat tinggal kami.

Dan kenapa saya bilang itu adalah barang rongsokan, sebab sebagian hari kembali pasti becak itu bakal datang kerumah kita memohon untuk diperbaiki. Aku tidak begitu tahu dan memperhatikannya, semata-mata tiap tiap hari saya memandang becak-becak itu, setidaknya saya tau mana yang sudah pernah datang dan mana yang belum.

Sering berasal dari becak yang diperbaiki ayahku adalah becak yang sama, dan itu-itu saja. Aku pun hafal, lebih-lebih siapa yang datang termasuk saya tau dia pemilik becak rongsok yang mana.

Kebiasaannya tidak baik yang kerap dikerjakan itu menyebabkan tubuhnya lemah. Dia kerap sekali sakit-sakitan. Batuknya yang tak henti dalam satu dua minggu, nafas yang sedikit ngos-ngosan, asma sih enggak, bisa saja saking kecapeannya.

Untuk menghidupi anaknya, ibuku membantu perekonomian keluarga bersama dengan jualan gorenang tiap tiap harinya. Ayahku sendiri hanya tukang becak motor dan petani kecil. Jadi setelah dia begadang atau hanya tidur dalam saat 1-2 jam, lalu dia pergi ke sawah dan mengurus ladangnya.Tapi jikalau tidak musim tanam atau panen, maka ayahku pergi ke pankalan becak untuk melacak pelanggan.

Sayangnya tak tersedia pelanggan yang berkenan menaiki becak motor punya ayahku. Memang saya akui dan termasuk ibu pun begitu, bahwa becak motor punya ayahku tak layak ditumpangi oleh orang. Mungkin tidak baik dan kerusakan sebab dibuat untuk mempunyai kelapa kering punya bosnya untuk diantarkan ke para pelanggan pemilik kelapa tersebut.

Iya, ayahku pengantar kelapa tua. Itu pun hanya terkecuali tiap tiap tersedia kelapa yang datang, biasa 3 hari sekali. Dari situlah ayahku terlalu mendapat upah untuk menghidupi keluarga.

Lantas bagaimana bersama dengan barang rongsok yang selalu dikerjakannya tiap tiap malam, yang ada masalah payah dia bela-bela tidak tidur hanya untuk memperbaiki barang-barang tersebut?

Kalau kalian tau, seluruh yang dia melaksanakan untuk becak motor rongsok itu “TIDAK di BAYAR“.

Ketika saya mendengar kabar selanjutnya berasal dari ibuku, saya termasuk turut jengkel, marah, kesal apa sajalah. Kenapa cobalah dia berkenan bela-belain memperbaiki becak rongsok punya temannya yang terhadap ujung-ujungnya tidak mendapat apa-apa?

Cerita Sedih Ayah Penggemar Barang Rongsok

Kenapa termasuk sih dia merelakan kesehatanya hanya untuk orang yang tidak memikirkannya. Pernah saya menjumpai dia terlalu sakit. Tubuhnya terlalu lemas, batuknya sudah gak karuan suara dan iramanya, menyakitkan dada orang tersebut. Dia hanya sanggup berbaring lemas untuk jangka saat sebagian hari.

Sejenak saya berfikir, mungki dia lebih baik diberi sakit berasal dari Sang Kuasa, bersama dengan begitu dia sanggup istirahat. Mungkin termasuk berasal dari sakit itu dia sadar, terkecuali yang dia lakukan itu tidak baik untuk kesehatannya. Toh termasuk apa yang ia lakukan tidak mendapat apa-apa.

Tapi pikiranku keliru besar, apa yang sudah berlangsung kepadanya tidak membuatnya beralih sama sekali. Saat dia sudah sedikit bugar, hanya sedikit saja, dia lakukan aktifitas itu kembali dan lagi.

Sampai kapan dia bakal lakukan hal itu? Aku kesal bersama dengan berbuatanya, saya bukan benci, hanya terkecuali memandang keliru seorang yang kusayang layaknya itu, sesudah itu saya perlu bagaimana? saya termasuk bingung, ibu saja tidak sanggup menasehatinya, apa kembali aku?

Di suatu pagi yang seisi tempat tinggal ribut oleh ocehan ayah-ibuku, saya mendengar ucapan mereka yang lantang bersama dengan suara saling meninggi,

“pak bagaimana nasib anak kita, terkecuali papa begini terus, penghasilan pas-pasan dan tidak cari kerja lain. Masih saja mengurus becak orang yang tidak mendapakan upah. Sedangkan anak kita sudah masuk kelas 3 SMA, habis ini perlu dana banyak untuk ujianya” kata ibuku berusa halus.

“Ya sudah lah, terkecuali sudah tidak sanggup membiayai sekolah, ya gak usah sekolah” katanya keras.

Raut muka ibuku menjadi mengkerut.

“Jangan begitulah pak, papa yang perlu sanggup cari kerja lain. Tinggalin itu becak-becak gak berguna. Paling termasuk di kasih 10 ribu, itu aja terkecuali tersedia yang ngasih.” kata ibuku sedikit meninggi.

“Lah berkenan kerja apa, reski sudah tersedia yang ngatur, iya itu dapatnya.”

“Tapi tidak begitu termasuk pak, papa menyiksa diri terkecuali setiapa malam begitu.”

“Udah lah udah, terkecuali berkenan sekolah suruh anakmu cari duit sendiri”

Mendengar kalimat itu hatiku segera sakit, sungguh terlalu menusuk, apa jadinya terkecuali saya tidak sekolah? Kata-kata itu terlontar berasal dari mulutnya. Jujur, saya sebenarnya tidak akrab bersama dengan ayahku. Ngobrol? itu tidak tersedia dalam kamus keluargaku, lebih tepatnya saya sama ayahku.

Ketemu di jalur saja kita tidak pernah saling sapa, perhatiannya kepadaku nyaris tidak pernah ada. Sekali doang saat ibu pergi kepasar dan saat saya sakit gigi, dia pernah bicara :

“Sakit gigi ta, di kasih pil sana membeli di toko sebelah”

Itu kalimat yang tak pernah terlupakan dalam hidupku. Perhatiannya bisa saja terlalu mahal untuk anak-anaknya. Aku tidak tau kenapa. Mungkin sepele, tetapi bikin saya itu miliki nilai sekali.

Sampai suatu hari, dia pergi ke ladang, dan saya sekolah.

Sore hari dia baru pulang, begitu termasuk denganku. Tapi saya lebih pernah satu jam berasal dari terhadap dia. Ayah-ibu datang jam lima sore. Memang terkecuali ibuku usai menjajakan gorengan, terkecuali badannya tetap sanggup bergerak, dia bakal turut ayahku ke ladang dan membantunya.

Sore itu tidak tersedia berita tidak baik sedikitpun. Ayahku termasuk sehat terhadap hari itu, begitu pula ibuku.

Pada malam harinya, saya yang pulang berasal dari tempat tinggal temanku yang agak larut, tepatnya jam 11 malam, saya mendapati ayahku sudah tidur. Tumben banget kataku.

Ayahku belum sholat isa’. Lalu berasal dari luar kamar saya dengar ibuku yang baru selesai berasal dari pekerjaannya, membangunkan papa agar dia lakukan kewajibannya.

Aku termasuk saat itu tetap bangun dan melihat tv, mencari-cari kantuk bersama dengan tiduran di kasur depan ruang keluarga.

Usai sholat, ayahku makan. Entah kenapa dia malah makan, membuka segera beranjak tidur untuk meneruskan istirahatnya. Setelah itu saya tidak tau kabarnya, saya sudah terlelap.

Sekitar jam satu malam, saya mulai tidak sedap bersama dengan tidurku. Aku setengah terbangun. Lalu saya mendengar ibuku memanggil-manggil ayahku dalam kamarnya.

Cukup lama saya mendengarnya, bisa saja lebih kurang 15 menitan. Dan saat itu termasuk ibuku menghampiriku lalu membangunkanku dan bilang :

“san.. Bapakmu gak ono ..” (ayahmu gak ada)

Aku yang sudah tahu sejak tadi segera bangun. Melihat raut muka ibuku yang kebingungan dan mengupayakan mencerna.

Aku segera berkunjung ke ayahku yang terbaring di kamar.

Sekilas, saya termasuk tidak tau perlu berbuat apa. Aku tidak pernah memandang kematian, saya takut. Melihat muka ayahku bersama dengan mata terbuka dan mulut menganga. Aku peganng kakinya, dingin, dingin sekali. Aku taruh tanganku di dadanya, coba merasakan denyutan jantungnya. Tapi tak tersedia detakan sedikitpun, ayahku sudah meninggal.

Dalam benakku, saya kebingungan, apa yang perlu saya lakukan, dia sudah tidak ada. Apa saya perlu senang? bisa saja bersama dengan begitu sudah tidak tersedia omelan kembali di pagi hari terkecuali dia tidak ada. Aku perlu bangga, bersama dengan begitu tidak tersedia kembali tetangga yang bakal terganngu di tiap tiap malam. Toh termasuk tersedia tidak terdapatnya dia, saya tak pernah bicara.

Tapi dia ayahku, ayahku satu-satunya.

Saat itu termasuk saya meneteskan air mata. Ibuku termasuk mulai menggeru-geru, kakak ipar perempuanku termasuk terbangun dan menangis bersama dengan sangatnya, saat tahu papa tidak ada.

Aku tidak memiliki hp, saya tidak sanggup menghubungi keluarga yang lain untuk memberitahukan perihal ini. Ada kakakku yang tinggal beda tempat tinggal di tengah desa, perlu saat untuk pergi kesana.

Aku pun pergi ke tempat tinggal kakak perempuanku, dan mengabarkan kematian ayahku. Lalu kakakku termasuk mengabarkan ke seluruh sodara yang tersedia di luar kota.

Beginikah rasanya kehilangan seorang ayah?

Sakit, tetapi dalam hidupnya termasuk tidak membuatku puas sama sekali. Rasa ini bercampur aduk.

Ibuku yang paling terpukul bersama dengan perihal ini. Sesosok ibu yang terlalu tangguh dan penyabar pun tak kuasa jikalau dihadapkan bersama dengan kematian.

3 hari 3 malam ibuku tetap saja menangis. Dia tetap tidak terima, tidak tersedia sakit apa-apa yang menjangkitnya. Pagi termasuk tetap bekerja di kebun, malam termasuk tetap makan. Secepat itukah kematian menghampiri?

Hari demi hari berlalu. Kami mengenang seluruh jasa yang pernah dikerjakan oleh ayakku pernah saat tetap hidup. Semua keluarga termasuk berkumpul di tempat tinggal ibu, berasal dari kakak yang pergi merantau ke Malaisya dan Surabaya.

Ibuku mencertikan seluruh dibalik apa yang ayahku lakukan, dia bicara :

“Ayahmu sungguh mulia, dia berkenan membenahi becak-becak yang rusak memiliki temannya itu bukan suatu hal yang percuma. Dia memiliki komitmen yang baik. Pernah bilang sebelum saat kematiannya, ibu tanya kenapa terus-terusan lakukan pekerjaan yang tidak di bayar itu. Dia bicara : ‘kalau becak-becak itu tidak segera diperbaiki, maka mereka tidak sanggup melacak uang. Sedangkan mereka perlu duit untuk makan. Dan mereka hanya bekerja sebagai tukang becak’”

Dari situ saya baru mengerti, sungguh tulus tingkah laku yang dia lakukan, Dia tau keluarga kita berasal dari kolongan yang tidak punya, tetapi dia memandang temannya lebih butuh agar berkenan mengorbakan dirinya sendiri untuk orang lain.

Dia termasuk tau terkecuali pemilik becak-becak itu tidak bakal sanggup membayar duit agar tidak diperbaiki di bengkel, berasal dari sana termasuk ayahku tak pernah menambahkan tarif bagi mereka.

Pernah sekali,-mungkin saking gak enaknya mereka yang terus-terusan datang dan tak pernah berikan upah, keliru satu berasal dari mereka menambahkan upah kepada ayahku sebesar 10 ribu perak.

Bayangin, sebandingkah 10 ribu bersama dengan kerja lembur begadang?

Aku kaget bercampur kagum, seluruh yang diceritakan ibuku itu nyata. Dibalik sosok diamnya, ternyata dia sebenarnya begitu baik. Kematiannya termasuk tidak dipersulit, dalam jasatnya termasuk terahir saya memandang tersedia keringat dingin yang membasahi wajahnya.

Aku dengar-dengar berasal dari pengajian bahwa keliru satu tanda-tanda kematian husnul khotimah adalah kematian yang tiba-tiba, keringat terlihat berasal dari tubuhnya, dan lain sebainya. Kuharap ayahku sanggup berasal dari keliru satunya.

Dari peziarah termasuk lumayan banyak, sampai-sampai temanku bertanya “apakah ayahmu seorang tokoh dia desa?” Tentu saya jawab tidak. Ayahku orang yang biasa saja. Tidak terkenal dan jarang dikenal oleh orang banyak.

Satu yang dibisikan ibu ketelingaku, sebuah keikhlasan menghasilkan buah yang tak pernah sanggup dirasakan oleh orang lain. Itulah ayahku.

ohh ayah, jikalau sedikit saja kita sanggup bicara, saya mendambakan sekali bertanya bagaimana kabarmu hari ini? Apa kau sehat-sehat saja? sudahkah kau makan pagi ini? Tapi saat kini sudah mengatasi kita.

ohh ayah, bisa saja jasamu tak bakal sanggup saya lupakan, saya hanya sanggup mengucapkan terimakasih sudah membesarkanku hingga layaknya ini, saya hanya sanggup berterimakasih. Sampai jumpa ayah. Doaku selalu menyertaimu. Aku bakal mengupayakan menjadi anak yang sholeh, saya bakal jaga ibu selalu..